
Rupanya Jang Geun Seok (Baby and I, Bethoveen Virus) lebih tertantang untuk bermain dalam film yang tidak melulu mengandalkan packaging alias rupa ragawi aja. Setelah di gossipkan menolak peran di BBF bareng Lee Min Hoo cs. (nyesel gak yah, secara tuh drama jadi meledak dan hits berat), uri dongsaeng Geun Suk malah bermain di sebuah film serius yang di angkat dari kisah nyata berjudul 'Itaewon Murder Case' (Itaewon Salinsageon) atau di kenal juga dengan Burger King Murder Case (karena pembunuhannya terjadi di restoran cepat saji Burger King di daerah Itaewon).
Film yang masih dalam proses penggarapan ini bercerita tentang pembunuhan yang terjadi tahun 1997 yang menimpa mahasiswa korea di daerah Itaewon, dimana lokasi tersebut terdapat banyak sekali warga asing/non korea karena dekat dengan pangkalan militer Amerika. PAda kenyataannya dua tersangka yang merupakan warga Amerika nyatanya dapat pulang kembali ke negaranya tanpa hukuman yang setimpal. Namun di film ini, Geun Seok bakal berperan sebagai anak berandal yang menjadi salah satu tersangka pembunuhan tersebut.

Jang Geun Sok bakal di pasangkan kembali dengan aktor yang pernah main bareng dengannya di film Happy Life, Jung Jin Yeong. Itaewon Murder Case di jadwalkan tayang sekitar bulan September 2009.

Setelah film terakhirnya bersama Cha Tae Hyun dalam Baboo (stupid). Ha Jin Won yang kita kenal lewat serial drama ciamiknya bareng Jo In Sung dan So Ji Sub, 'Memories of Bali' kini tampil kembali lewat film yang masuk kedalam kategori Disaster Movie (film-film yang mengangkat kerusakan akibat anomali alam), berjudul
'Haeundae'.
Haeundae adalah nama objek wisata pantai terkenal di semenanjung kota Busan yang di film ini bakal di gempur tsunami hebat dan meluluh lantaikan hampir separuh kota. Dan seperti halnya film-film yang mengangkat mengenai bencana alam, maka di dalamnya bakal di ceritakan para survivor dan usaha penyelamatan mereka terhadap bencana alam yang datang terjadi itu.

Sebelum Haundae rilis di Korea, film yang di rilis oleh JK Film CJ Entertainment telah di putar di 20 negara lain. Selain Ha Ji Won, Umh Jung Hwa (Get Carl O so jung), Lee Min Ki (Dalja's Spring), dan Seol Kyung Gu juga bakal bermain di film yang konon menggunakan efek animasi CGI langsung dari team Hollywood yang biasa menangani film-film yang membutuhkan special effect besar. Film yang sebentar lagi tayang di Korea (rilis sekitar bulan Juli) ini seperti memang layak banget untuk ditunggu.
Official website: Haeundae 2009
######

Lee Seon Kyun yang belum baru-baru ini telah meresmikan hubungannya lewat pernikahan nampak tak terganggu dengan dengan kehidupan pribadinya yang baru. Bayangkan saja, hanya dalam satu tahun terakhir ia mampu merampungkan paling tidak 2 judul drama dan 4 judul film (kejar setoran, om? hehehe). Salah satu film yang baru selesai di garap dan bakal tayang sekitar musim Gugur tahun ini adalah 'Paju'.

Film bergenre drama romantic ini mengangkat kisah seorang gadis remaja berusia 15 tahun yang jatuh cinta dengan suami kakak perempuannya yang kemudian meninggal karena kecelakaan. Paju sendiri adalah nama sebuah kota di Seoul Gadis itu bakal di perankan oleh Seo Woo, dan Lee Seon Kyun akan berperan sebagai laki-laki tersebut yang berusia 7 tahun lebih tua. Paju di sutradari oleh Park Chan ok dan merupakan film ke tiga yang ia garap.
Download behind the scene 'Paju'.
source: dramabeans n others
Labels: Opinion
Perempuan kecil di sampingku lagi-lagi menangis. Kali ini tangisnya tak lagi menggerung, hanya isaknya stakato tiap beberapa detik dibarengi getar bahunya yang naik turun.
Jarinya sibuk memilin ujung rok seragamnya yang kini sedikit kumal. Aku diam. Ku sentuh bahu ringkihnya. Perempuan itu perlahan mengangkat kepalanya.
“Aku patah hati”
Kalimat pendek yang sebenarnya telah berputar dalam kepalaku sejak sebelum dia berkata barusan.
“Siapa kali ini?” Tanyaku pendek.
“Seseorang dengan segala mimpi yang kubuat tentangnya”
Perempuan itu kini berhenti terisak. Ada gurat kecewa dimatanya sebagai gantinya.
“mimpi, semua ceritamu berkalang mimpi, jika mimpimu tak tereksekusi, kau memaki” Aku membredel kenaifan dalam jiwa perempuan kering didepanku.
“Mimpiku bukan sembarang mimpi. Kau juga sering tak memijak bumi!” kini suaranya tak gentar mengalahkan derap kereta api jawa yang barusan lewat di luar jendela kamar kami yang pengap, membaurkan debu-debu pekat.
“Tak perlu merasa hina, aku tidak pernah menyangkal bahwa bermimpi itu tidak benar, hanya enggau terlalu lampau”
Tuas saklar hitam disamping lemari reot itu kudorong keatas, matahari sebentar lagi segera tergelincir dan kamarku mulai bermandikan pijaran kuning lampu redup, seredup cahaya mata perempuan didepanku.
“Kusangka dia lelaki baik, Tapi ternyata dia setali tiga uang dengan yang lainnya” Perempuan itu kembali terisak.
Seperti berdejavu. Lagi-lagi sederet kalimat lama itu yang bisa dia hamburkan dari lisannya.
“Sudahlah” Setelah lama memilah, kata apa yang pantas untuk membalas , cuma itu yang bisa ku ingat.
“Sudahlah” Kataku lagi, seperti berusaha memperjelas.
“Kau tak akan pernah tahu, betapa aku pun merindu mimpi-mimpi yang sejak dulu kurentas bersama waktu yang kejam bergulir, namun sangat sulit terwujud, dan jika ku telah sampai pada titik lelahku, aku berbalik dan berkata, Sudahlah” Dan seperti biasa kalimat itu hanya terekam dibathinku tanpa pernah ku coba perdengarkan pada perempuan pucat ini.
=======
Labels: Mumbling
Labels: Mumbling
Semalam, ketika saya pulang dari tempat kerja, mendung yang sejak pagi mengantung akhirnya terpecah dalam bentuk buliran hujan. Hujan cukup deras mengguyur jalan raya, dan membuat udara drop sampai beberapa derajat Celcius
. Seperti biasa, saya sangat menikmati keberadaan hujan. Jadi ketika dengan derasnya hujan mengguyur, saya malah asik terlelap di dalam sebuah angkutan mungil yang penuh sesak manusia (salah satu keahlian saya, duduk sambil tidur, dan tidur ditengah-tengah orang asing
). Jalan menuju lokasi rumah saya ternyata macet beurat, sehingga sang supir angkot berinisiatif untuk mencari jalan tikus yang dapat menembus kemacetan. Entah sudah sampai mana mobil itu melaju, ketika tiba-tiba mobil berhenti mendadak.
Sang Sopir berkali-kali mencoba men-starter mobil itu, namun tetap tak berhasil. Seorang bapak penumpang tiba-tiba nyeletuk, “Itu dari suaranya, sepertinya bensinnya habis deh”. Dan benar saja, ternyata mobil itu kehabisan bensin
.
Persoalan yang sebenarnya sepele itu akan terasa menjadi lebih berat jika pertama, kita ada di jalan antah berantah karena bukan jalan raya, dan akan sulit mencari kendaraan pengganti, dan kedua, hujan makin lebat mengguyur. Akhirnya dengan setelah terpaksa kami para penumpang menunggu sang sopir untuk membeli bensin, Udara semakin pengap akibat terkurung dalam sebuah mobil mungil statis bersama dua belas manusia hidup didalamnya dan saling berbagi oksigen. Tak lama berselang, dengan basah kuyup, sang sopir datang kembali, mengisi tangki mobilnya dengan bensin, dan mencoba men-starter mobil tersebut, tapi ternyata usahanya sia-sia.
“kok, masih belum bisa, pir (sopir maksudnya, bukan tapir)? Emang bensinnya di isi berapa liter?” Celetuk seorang bapak berlogat batak yang duduk didepan.
“satu liter, pak” Kata sang sopir, sambil terus berusaha men-starter mobilnya.
“Yaa…pantesan, kurang dong kalo segitu” Kata beberapa orang hampir bersamaan.
“Iya pak, tapi saya gak punya duit lagi” Kata sopir tersebut miris.
“Kasian kali kaw, narik tak bawa uang, tarik-tarikin ongkosnya penumpang sekarang, biar kaw bisa beli bensin” Kata sang bapak batak tadi.
Tak lama dengan wajah merana
, si sopir meminta ongkos terlebih dahulu kepada kami para penumpang. Sumpah, yang tadinya saya dongkol setengah mati, jadi iba melihat tampang kesusahan sang sopir itu. Tak lama mobilpun bisa jalan kembali. Tidak sampai disitu kenaas-an sang sopir, mobil beberapa kali berhenti setiap kali mobil di rem, sehingga ada penumpang yang bilang “Udahlah gak usah pake rem aja sekalian” yang diikuti kekehan beberapa penumpang didalamnya
.
Alhamdulillah, akhirnya saya sampai tujuan, walau mobil angkot ajaib itu sempat dua kali mengeluarkan bunyi letusan pada knalpotnya dan wipernya kaca depannya copot begitu saja ditengah jalan. Nampak jadi malam yang na'as buat si sopir
.
Labels: Mumbling
Eh, pada berasa gak? Jalanan Jakarta sudah mulai
Kalau saja bisa memilih, nda' sudi sebenernya saya kerja di Jakarta. Kota yang nda' ada ramah-ramahnya itu, plus jumlah manusia yang sepertinya makin hari makin padat, tingkat polusi yang tinggi, rawan kejahatan, dan segudang 'prestasi' yang disandang Ibu kota Negara saya itu. Tapi takdir malah mendamparkan saya di tempat ini, pengennya sih saya bisa pindah ke suatu kota kecil dengan penduduk yang sedikit-tapi ramah, kemana-mana cukup bersepeda, nda' banyak kendaraan bermotor (khususnya motor), dan setiap hari serasa berpetualang dan nda' sabar untuk menantinya. Hehehe...nampak seperti suatu kota di eropa yaa? ya namanya juga berimajinasi nda apa-apa toh..kan katanya imagination encircles the world kita bisa kemana-mana lewat pikiran kita.
Ada tawaran menggiurkan secara napsu tapi tidak menghasilkan secara finansial dari teman saya, yaitu jalan-jalan ke negeri tetangga dan bertemu idola saya secara live karena kebetulan mereka menggelar pertunjukan di negara itu. Napsu menggedor-gedor pikiran logis saya buat menyambut tawaran tersebut, tapi untungnya saya masih bisa meredam. Biarlah saya menunggu kesempatan berikutnya saja, siapa tau lain kali saya sudah cukup mampu secara materi dan siapa tau saya lebih dikasih kemudahan. Ya, siapa tahu? who 
Labels: Mumbling